Antonius Ketut

Menghadapi Persaingan Di Tempat Kerja

Persaingan di tempat kerja adalah sesuatu yang sangat wajar, karena di sana kita tidak melakukan segala sesuatunya sendirian – ada orang-orang lain yang juga harus mengerjakan tugas yang sama dengan kita.

Kalaupun kita berkata bahwa kita sudah membentuk suatu tim kerja yang sangat bagus sehingga tidak mungkin terjadi persaingan, akan selalu ada kompetitor yang lain. Sebagai contoh, di dunia media cetak sendiri, bukan hanya satu koran yang eksis, tetapi ada banyak koran yang menjadi kompetitor satu dengan yang lain.

Selama kita menyikapinya secara positif, persaingan justru akan menolong kita untuk memunculkan puncak potensi yang kita miliki, karena tujuan persaingan adalah untuk menuntut kita memunculkan kreativitas, keahlian dan potensi terpendam yang selama ini belum tergali. Yang perlu dipastikan adalah, entah persaingan itu terjadi di dalam perusahaan atau antar perusahaan yang lain, ada batasan-batasan etika kerja yang harus tetap kita pegang. Selama kita terus memegang etika-etika kerja yang ada dalam sebuah kompetisi, maka persaingan adalah sesuatu yang wajar. Hal lain yang juga harus diperhatikan yaitu dalam persaingan tidak boleh ada saling menjatuhkan/saling menyerang; kita hanya boleh berlomba-lomba mengungguli potensi yang dimiliki oleh ‘pesaing’ kita. Jika persaingan itu terjadi dalam satu perusahaan yang sama, kita harus tetap melakukannya dengan landasan pemahaman bahwa kita berada dalam satu tim, karena jika kita saling menjatuhkan/saling menyerang, kompetisi yang ada akan menjadi tidak sehat; perlahan tapi pasti perusahaan yang ada akan mengalami kemerosotan karena digerogoti dari dalam.

Persaingan yang sehat untuk mengungguli potensi rekan kerja kita secara otomatis justru akan membuat perusahaan tempat kita bekerja menjadi lebih maksimal dan lebih unggul.

Indikator bahwa persaingan yang ada mulai menjadi tidak sehat adalah ketika kita mulai saling serang/saling menjatuhkan atau melakukan segala cara untuk mendapatkan promosi. Contoh: ‘menjilat’ pemimpin demi mendapat ‘perhatian lebih’ adalah tanda bahwa persaingan yang ada sudah mulai menjurus ke arah yang negatif.

Menghadapi persaingan yang tidak sehat

Jika ternyata ada ‘pesaing’ yang menghalalkan segala cara dan memiliki tujuan negatif, hal pertama yang harus kita pastikan adalah tetap memiliki sudut pandang dan sikap hati yang bersih, karena dari situlah kita bisa memastikan bahwa kita tetap memegang rule persaingan yang sehat. Mungkin pihak lainnya mulai keluar dari batasan-batasan etika dari kompetisi yang sehat, tetapi kita tidak boleh ikut-ikutan.

Yang kedua, kita bisa mencoba untuk mengubah ‘rencana jahat’ dari pesaing-pesaing kita menjadi ‘energi penggerak’ bagi kita sendiri, atau dengan kata lain, mencoba menyikapi niat jahat pesaing dengan respon yang positif, sehingga kita justru bisa membuat niat jahat pesaing kita menjadi batu loncatan, bukan batu sandungan.

Dengan mengetahui bahwa ada orang yang ingin menjatuhkan kita, kita akan menjadi lebih waspada, sehingga kita pun terus terdorong untuk memaksimalkan potensi-potensi yang kita miliki. Akan tetapi, jika kita meresponi ‘rencana jahat’ itu secara negatif, kita pun akan mulai terpancing untuk merencanakan hal-hal jahat demi menjatuhkan lawan kita. Itu sebabnya kita perlu memiliki sudut pandang dan sikap hati yang bersih. Tanpa sudut pandang dan sikap hati yang bersih, kita akan dengan mudah terjebak dalam persaingan yang bersifat saling serang, dan pepatah yang berkata “Gajah berkelahi melawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah” akan bisa terjadi; dalam hal ini tidak ada yang diuntungkan, sebaliknya, kedua pihak justru dirugikan. Di sisi lain, kalau pun kita berhasil menyingkirkan pesaing kita, hal itu tidak akan memberi keuntungan apa-apa bagi kita, karena sama halnya jika kita menaburkan kejahatan, sekali waktu kita pun akan menuai apa yang ditabur itu.

Dengan terus menjaga sikap hati dan sudut pandang agar tetap bersih, meskipun ada orang-orang yang ingin menjatuhkan kita, kita justru bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk mengembangkan kapasitas kita. Toh kita sendiri yang akan diuntungkan, karena bagaimanapun juga, sebuah perusahaan akan selalu melihat berdasarkan prestasi.

Lalu yang ketiga, kita perlu terus mengembangkan kemampuan dan kapasitas yang kita miliki, karena semakin kapasitas kita berkembang, semakin persaingan akan jauh dari kita. Ada sebuah buku yang sangat bagus, berjudul ‘Blue Ocean Strategy’ yang membagikan prinsip-prinsip tentang bagaimana kita bisa menghindari persaingan, yaitu dengan mencari peluang-peluang baru, mengembangkan kapasitas-kapasitas terpendam yang kita miliki, sehingga itu akan membuat kita ada di atas rata-rata. Jika kita ada di atas rata-rata, siapa yang akan bersaing dengan kita? Tetapi jika kita masih rata-rata, persaingan yang ada akan menjadi sangat ketat.

Jika kita melihat orang-orang yang tidak memiliki kapasitas atau kemampuan berhasil mendapatkan promosi karena mempergunakan cara-cara licik -sementara kita yang sudah bekerja keras tetap tidak mendapat promosi apapun- satu hal yang saya tegaskan, jangan pernah ikut-ikutan! Tetap tunjukkan etika kerja dan etika bergaul dengan pemimpin dan rekan kerja secara positif. Di sisi lain, kembangkan terus kapasitas dan kemampuan kita dan tunjukkan progresifitas kerja kita. Pastikan kita terus belajar meningkatkan kualitas atau mutu kerja kita, sehingga dengan sendirinya, secara kasat mata kinerja kita tampak lebih bagus daripada para ‘penjilat’ tersebut.

Saya mendapati, orang-orang yang sering kali diberi label ‘penjilat’ sebenarnya hanya memiliki kemampuan untuk melobi pemimpin – mencoba menyukakan pemimpin, namun tanpa hasil kerja sama sekali.

Cepat atau lambat, pemimpin akan bisa melihat bahwa orang tersebut hanya pintar berbicara namun tidak ada bukti kerja yang nyata. Walaupun pemimpin kita mungkin tidak mengetahui kondisi lapangan secara langsung, hasil kerja seseorang pasti akan berbicara lebih nyaring dari omongan siapapun juga.

Kita juga perlu mengembangkan kemampuan untuk dapat melihat situasi atau permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Misalkan ada sebongkah batu di tengah jalan, si A mungkin berkata, “Batu itu harus disingkirkan karena akan membahayakan orang yang lewat”, sedang si B berkata, “Batu ini bagus, karena bisa saya jadikan batu loncatan.” Kedua hal ini hanya dibedakan oleh sudut pandang; sudut pandang yang berbeda akan membuat orang yang bersangkutan menyikapinya dengan cara yang berbeda pula. Demikian pula dengan setiap peristiwa/situasi/keadaan yang terjadi dalam hidup kita. Ada orang yang ketika menghadapi situasi A menjadi patah semangat, kecewa, marah, atau tersinggung, sementara orang lainnya lagi justru menganggap situasi tersebut sebagai sesuatu yang menantang. Kemampuan untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif akan memacu kita untuk menjadi lebih baik dan bukan terjebak dalam gejolak emosi negatif.

Jika iklim tempat kerja kita mulai menjadi tidak nyaman karena adanya persaingan yang negatif dan menajam, saran saya, jangan buru-buru mengambil keputusan apapun, apalagi dengan kondisi hati yang sedang bergejolak karena kemarahan sehingga pikiran sehat kita mulai kabur. Ajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri Anda sendiri sebagai bahan evaluasi. Yang pertama, apakah kita sungguh-sungguh mencintai pekerjaan yang sedang kita tekuni ini? Jika jawabannya adalah ya, itu berarti kita harus berpikir ulang untuk melepaskannya, karena saya mendapati ada banyak sekali orang yang bekerja namun tidak mencintai dan menikmati pekerjaannya. Rata-rata mereka bekerja karena tekanan keadaan, sehingga mereka terpaksa menerima pekerjaan apapun demi menyambung hidup. Jadi, pikirkan ulang, apakah kita sungguh-sungguh mencintai pekerjaan tersebut. Jika ternyata kita tidak menyukai pekerjaan itu, akan lebih mudah untuk mengundurkan diri. Sebaliknya, kalau kita memang mencintai pekerjaan kita, persaingan yang ada hanya perlu kita sikapi sedemikian rupa agar bisa menghasilkan efek positif bagi kita.

Pertanyaan kedua yang perlu kita ajukan adalah: Apakah perasaan-perasaan tidak nyaman itu datang dari persaingan yang sedang terjadi, atau hanya perasaan kita sendiri? Jika kita mendapati bahwa itu hanya perasaan kita belaka, yang perlu kita lakukan hanya membatalkan rencana pengunduran diri tersebut. Tapi, jika ternyata perasaan tidak nyaman itu disebabkan oleh aura persaingan yang negatif, kita harus memikirkan lebih lanjut, apakah kita masih sanggup menolerirnya atau tidak.

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus kita pikirkan sebelum mengambil sebuah keputusan. Lalu bagaimana jika kita bukan salah satu pihak yang terlibat dalam persaingan, tetapi kita ada di tengah-tengah (mungkin di ruangan yang sama) dengan orang-orang yang sedang bersaing itu? Nah, ini juga harus menjadi pertimbangan tersendiri bagi kita : apakah kita masih tetap bersedia menjadi ‘penengah/juru damai’ bagi mereka? Karena ada orang-orang yang tetap merasa tidak nyaman dengan iklim persaingan yang ada, walaupun dia sendiri tidak sedang terlibat dalam kompetisi yang ada. Apakah kita akan tetap bertahan di tempat pekerjaan yang sekarang atau mencari pekerjaan baru dengan iklim kerja yang lebih kondusif, semua itu kembali berpulang kepada keputusan kita masing-masing.

Tetapi, sekali lagi saya sarankan, jangan buru-buru mengambil sikap apapun juga jika Anda belum membuat pertimbangan yang matang.

Apabila kita ‘terjepit’ di tengah dua orang yang sedang bersaing (sedangkan kita memutuskan untuk bertahan di tempat kerja, sementara suasana semakin memanas), yang perlu kita lakukan hanyalah terus membangun hubungan atau komunikasi dengan semua orang secara tulus. Cobalah berikan pengaruh positif kepada teman-teman yang sedang bersaing itu, karena persaingan yang tidak sehat dalam sebuah perusahaan justru akan merugikan kita sendiri. Seandainya persaingan yang tidak sehat itu tetap diteruskan, maka perusahaan akan mengalami kerugian dalam kinerja karyawannya, sehingga sekali waktu pemimpin yang ada akan mengambil sikap tegas, entah berupa perampingan, PHK, atau hal-hal lain yang tidak diharapkan.

Jadi, saran saya, mari singkirkan segala jenis persaingan yang tidak sehat, yang menghalalkan segala cara, dan bersainglah secara positif. Belajarlah untuk terus mengembangkan kapasitas sehingga kita bisa menjadi lebih baik dan lebih unggul dari sebelumnya, karena persaingan yang positif akan membuat perusahaan ikut menikmati manfaatnya. Ketika perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dari persaingan yang sehat, kita pun pasti akan menikmati keuntungan juga.

Melibatkan pemimpin agar konflik yang ada bisa terselesaikan adalah hal yang wajar. Biasanya, pemimpin akan segera meresponi/menanggapi kondisi yang ada, karena jika kondisi negatif terus dibiarkan berkecamuk di tengah perusahaan, pemimpin pun akan ikut dirugikan. Ketika pemimpin mulai melihat ada sesuatu yang salah di perusahaan dan mulai bertindak untuk menjadi penengah (memotivasi para pekerja untuk bekerja dengan lebih profesional dan maksimal), maka iklim yang sudah terlanjur jelek itu akan dapat dibereskan, sehingga kita bisa kembali bekerja dengan tenang.

Bagaimana jika saya memutuskan untuk keluar?

Jika pada akhirnya kita memutuskan untuk mencari tempat kerja yang baru, jangan buru-buru melangkah. Pertama-tama lakukan perhitungan dengan matang, karena jika kita terlanjur mengundurkan diri dan tidak kunjung mendapatkan pekerjaan yang baru, hal ini akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri.

Pastikan kita memiliki cukup tabungan untuk mem-back up kita selama masa-masa transisi – sejak kita mengundurkan diri sampai menemukan pekerjaan baru. Jika kita mengundurkan diri, secara otomatis kita tidak akan mendapatkan pesangon apa-apa dari perusahaan. Kalaupun kita sengaja membuat ulah agar dipecat, hal itu hanya akan berakibat pada rusaknya integritas kita sendiri, sementara integritas dan reputasi adalah sesuatu yang jauh lebih mahal dari apapun juga.

Yang kedua, pastikan di tempat pekerjaan yang baru nanti sudah tersedia jenis pekerjaan yang kita sukai. Apa gunanya meninggalkan pekerjaan yang lama –yang kita sukai– untuk mendapatkan pekerjaan baru yang tidak kita sukai? Apa gunanya meninggalkan pekerjaan lama yang tidak kita sukai, untuk mendapatkan pekerjaan baru yang tidak kita sukai juga?

Yang ketiga, pastikan kita melakukan pengunduran diri dengan cara yang terhormat. Sampaikan kepada pemimpin kita jauh hari sebelumnya, dan apabila memungkinkan, cari orang lain yang bisa menggantikan posisi kita dan latih orang tersebut untuk melakukan pekerjaan yang selama ini kita lakukan, sehingga kinerja perusahaan yang ada tidak akan terganggu ketika kita keluar. Saya mendapati, hal ini sangat erat kaitannya dengan integritas.

Yang terakhir, kalaupun kita harus mundur, tetap tunjukkan hasil kerja yang maksimal sampai hari terakhir kita bekerja. Bagaimana pun, sekali lagi, integritas adalah sesuatu yang sangat berharga.

Persaingan di luar ruang lingkup perusahaan

Sebagai salesman yang justru menghadapi persaingan di luar ruang lingkup perusahaan, seringkali orang berpikir, untuk menunjukkan hasil kerja yang bagus dibutuhkan perhitungan keuntungan jangka pendek belaka: “Yang penting bulan ini target saya tercapai”. Ia tidak berpikir untuk melihat keuntungan jangka panjang. Padahal ketika berbicara tentang sebuah pekerjaan, kita perlu berpikir jauh ke depan. Alasan mengapa seorang salesman menyikapi sebuah persaingan dengan menjelek-jelekkan atau menjatuhkan produk salesman saingannya di hadapan calon pembeli adalah karena ia hanya memikirkan keuntungan sesaat. Seandainya ia berpikir untuk jangka panjang, tindakannya pasti akan berbeda. Mari terus tingkatkan mutu kerja dan mutu produk kita, sehingga ketika kita menawarkan produk, kita tahu dengan pasti bahwa produk kita adalah yang terbaik di pasaran, dan sebagai hasilnya kita dapat memberikan jaminan dan bukti kepada calon pembeli — bukan hanya sekedar janji.

Di sisi lain, sebagai seorang sales, kita perlu mengasah kreativitas untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada calon pembeli, karena saya percaya ini akan meningkatkan daya beli customer sehingga target yang ditetapkan perusahaan secara otomatis ikut menanjak.

Selain itu, kita juga perlu menjaga hubungan dan komunikasi yang baik dengan para pembeli, karena tanpa kedua hal itu, hubungan yang ada tidak akan langgeng dan akan berdampak pada hasil kerja kita, karena pekerjaan seorang sales adalah pekerjaan jangka panjang.

Selain sudut pandang yang positif, juga dibutuhkan sikap yang sportif. Jika pesaing kita memang bisa menonjolkan sesuatu yang lebih unggul dari kita, kita harus memiliki cukup ke-sportif-an untuk mengakui keunggulan tersebut. Sikap sportif sangat perlu kita miliki, karena itu adalah bagian dari etika di dunia kerja. Bagaimanapun juga, jika dalam diri atau produk kita memang ada hal-hal yang harus dibenahi, kita harus bersedia mengakui hal tersebut. Tanpa sportifitas, kita tidak akan membuat pembenahan apapun, dan dengan sendirinya tidak akan ada kemajuan atau peningkatan (dari produk yang kita tawarkan maupun dari diri kita sendiri), sehingga cepat atau lambat kita akan tersingkir dari persaingan.

Persaingan dalam dunia kerja adalah sesuatu yang sangat wajar; sikapilah setiap persaingan dengan etika kerja dan cara-cara yang positif, sehingga persaingan tersebut dapat memacu kita untuk terus menjadi yang terbaik, baik dalam kapasitas maupun kreatifitas, sehingga hasil kerja dan produk kita akan selalu berada di urutan terdepan.

 

—-akd—–

 


“DISCLAIMER : Semua tulisan, artikel, informasi dan gambar yang ada pada blog ini merupakan pendapat pribadi Antonius Ketut Dwirianto selaku pemiliki akun/blog dan tidak dimaksudkan untuk menduplikasi karya pihak lain, mengaburkan data dan informasi, memberikan informasi dan keterangan palsu atau  menyimpang serta memiliki maksud-maksud yang melanggar kode etik dan hukum”

Leave a Replay

About Me

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Recent Posts

Follow Us

Weekly Tutorial